Showing posts with label Keluarga. Show all posts
Showing posts with label Keluarga. Show all posts

Wednesday, January 4, 2017

Catatan nadya

4 Januari 2017

2 hr ini nadya demam, 1 hr sblmnya demam, terus sembuh dilanjut demam lg 2 hr ini...

Alhamdulillah dikasi penurun panas sdh mendingan. Tadi di kasur dibiarin gugulingan, eh tiba2 liat udh posisi duduk aj

Nambah satu kepintaran, udh bisa posisi duduk sndiri. Ga perlu di dudukin lagi :D

*klo posisi di foto ini msh di dudukin

Wednesday, December 7, 2016

Miss u mom & dad

Hikmah/pelajaran dr apa yg kuperhatikan: agendakan waktu untuk liburan bersama keluarga, enjoying the time. Keriuhan dgn anggota cilik yg super aktif di nikmati aja... Ukir semuanya dgn keikhlasan,nikmati stp perjalanan. Karena akan ada masanya semua anak2 sdh dewasa dan orangtua menjalani harinya masing2.. Anak2 yg sibuk dan tdk sempat kumpul keluarga, atau bahkan pasangan yg lbh dahulu menghadap-Nya... Liburan atau jalan2 tdk lg bersama keluarga, kesendirian akan jd keseharian...

Bersyukur atas nikmat keluarga, berikan waktumu untuk keluarga....

Teringat masa kecilku bersama keluarga, rindu saat2 bersama papa & ibu :'(

Saturday, April 25, 2015

Jasa orang tua

Kasih ibu sepanjang jalan, kasih anak sepanjang galah....

Ya kasih sayang orang tua terhadap anak lebih banyak dan lebih besar dibanding anak. Tak kan terbalas besarnya kasih sayang dan jasa ortu secara langsung...

Ketika si anak telah dewasa dia akan sibuk dengan urusannya sendiri dan keluarga barunya. Tak sempat banyak berbakti pada ortu... Kalau pun berbakti/mengurus ortu di masa tua nya, perhatian k ortu tak kan sebesar perhatian ortunya ketika mengurusnya ketika kecil..

Ya takkan terbalas.... cara membalas jasa dan kasih sayang ortu adalah dgn memberikan kasih sayang k anak2 kita. Seperti ketika kita diberi kasih sayang oleh ortu kita.. seperti kakek nenek memberi kasih sayang k ortu kita.. begitu seterusnya..

Ternyata mungkin begitulah cara Allah agar kita tetap dapat berbakti pada ortu (selain membahagiakan,mendoakan serta menjadi anak yg soleh bagi ortu)

#Note to myself

Friday, April 17, 2015

Selamat jalan my lovely mother

Ini kali kedua aq menuliskan kata "Selamat jalan" pada orang yg paling kusayangi. 5 hari stelah aq keguguran.. Tepatnya tgl 19 maret kami sekeluarga langsung terbang dlm perjalanan dr bandara halim bandung ke bandara kualanamu medan....

Utk melihat, mencium dan menyentuh ibu utk yg terakhir kalinya di dunia ini...

Ibu menghembuskan nafas terakhirnya pada malam 18 maret pkl 23...

Sediiih sekali rasanya tdk sempat memberikan pelayanan dan kehadiran yg terbaik saat msh bs bertemu ibu dlm keadaan sakitnya.

Teringat selalu ibu yang penuh semangat. Meski dlm keadaan sakit selalu semangat utk belajar apalagi mempelajari masakan/kue yg baru diketahuinya. Langsung dgn semangat membeli peralatan utk mencetak kue. Atau mencatat setiap resep di kertas yg ditemuinya.

Setiap sdh dftr paket obrol biasanya aq selalu menelfon ibu. Selalu ada cerita dan nasehat. Sekarang aq masih di rumah ibu utk menemani papa... tp ketika sdh dftr paket obrol telfon, selalu terfikir utk menelpon ibu.. :'/  

Ketika tau kabar org di kota ini serasa pengen cerita ke ibu seperti biasa..

Ah ibuu... beginilah rasanya benar2 kehilangan dan merindu. Kita tidak lg sekedar terpisah jarak kini... tp sdh terpisah alam...
Semoga Allah menempatkan ibu di surga Nya kelak. Menjauhkan ibu dr siksa kubur & siksa neraka. InsyaAllah... krn ibu seorang yg taat beribadah & rajin berdakwah.

Mudah2an kami termasuk anak2 yg soleh.. hingga Allah mendengarkan doa kami untuk menghadiahkan surga bagi ibu...

Friday, January 30, 2015

Semoga jd ortu Terbaik dlm pandangan Allah

Ada postingan bagus utk para ortu. Copy disini, agar teringatkan utk tetap bersikap lembut pada anak menjelang remaja hingga dewasanya

Bismillah...

⚠��⚠��⚠��⚠
JANGAN JADI ORANGTUA DURHAKA (Sebuah renungan)

By : bendri jaisyurrahman
(twitter : @ajobendri)

1. Hal yang indah ketika Allah memberi amanah kepada orang tua. Lahirnya anak sebagai pelipur lara. Dinanti sejak awal berumah tangga

2. Anak dinantikan hadirnya, namun saat terlahir banyak yang mengabaikannya demi mengejar obsesi dunia

3. Banyak pasangan berobat demi mendapatkan anak. Di sisi lain banyak pasangan setelah memiliki anak sibuk dengan mencari harta yang banyak

4. Padahal anak bukanlah piaraan sebagaimana kucing anggora. Sekedar dikasih makan selesai begitu saja. Mereka punya jiwa yang harus disapa

5. Ortu bersusah payah penuhi kebutuhan materi. Namun sering abai memenuhi kebutuhan hati dan ruhani. Jadilah mereka tumbuh tanpa harga diri

6. Saat anak dirundung masalah sepulang sekolah, ortu sering tak ada di rumah. Mereka mengadu kepada tetangga sebelah. Kita cemburu dan marah

7. Saat anak unjuk prestasi. Berharap ortu hadir dan memuji. Namun ortu sibuk dengan segudang alibi. Mereka merasa yatim sejak dini

8. Saat anak masih bayi ortu rela begadang. Setelah tumbuh remaja komunikasi menjadi jarang. Sekedar tanya PR tak ada waktu berbincang

9. Kita salahkan tv sebagai perusak. Namun tak mampu memberi hiburan anak walau sejenak. Malah bangga dianggap anak sebagai ortu yang galak

10. Anak mencoba datang ke mesjid. Saat bercanda malah dibentak dan dicubit. Hati mereka sakit. Bertekad jauhi masjid

11. Anak lebih memilih ke warnet. Disambut laksana artis di atas karpet. Disana mereka awet. Ortu makin mumet

12. Saat anak bertanya tentang seks yang tabu. Ortu menghardik dan menggerutu. Tak dijawab malah mengalihkan isu. Anak mencari jawab dari film biru

13. Saat anak mulai jatuh cinta. Mereka butuh teman bercerita. Ortu berada entah dimana. Mereka pun curhat lewat dunia maya

14. Saat ortu tak bisa menjadi kawan. Mereka pun memutuskan untuk pacaran. Demi bisa dapat perhatian sekaligus belaian yang diidamkan

15. Ortu hanya bisa marah. Sementara pacar bersikap ramah. Anak lebih membela pacar dibandingkan ortu yang suka menampar

16. Ortu merasa sudah berjasa. Memberikan semua yang anak pinta. Padahal anak jarang disapa. Sudah lama tak bermain dan bercanda

17. Saat anak dirasa menjauh ortu menyesal. Hanya bisa marah-marah dan merasa gagal. Saat bayi dulu anak ditimang. Sudah besar berbincang jarang

18. Andai waktu bisa berulang. Perbaiki kesalahan yang sudah melekang. Namun anak kadung menentang. Tinggallah ortu merasa gamang

19. Jika semua sudah terlanjur, maka evaluasi haruslah jujur. Tak perlu salahkan siapa-siapa. Semua pasti ada hikmahnya

20. Meminta maaf bisa lembutkan jiwa. Teriring kalimat cinta. Dengan pasangan saling bekerjasama. Memulai tekad jalin kasih dalam keluarga

21. Bersusah payah mengasuh anak di dunia tidaklah mengapa. Asal di akhirat bisa berkumpul bersama. Allah buatkan rumah di surga. Duh indahnya

22. Jangan malu mencari ilmu. Sebab mengasuh anak memang perlu guru. Agar kita tak keliru. Berharap anak jadi pribadi bermutu

23. Luangkan waktu ikut seminar pengasuhan. Praktekkan bersama pasangan. Anak bangga punya ortu idaman. Selalu mendampingi saat dibutuhkan

24. Saat ortu telah tiada. Anak tak henti mengirim doa. Sebab cinta telah tertanam sedemikian rupa. Buah dari pengasuhan yang utama

25. Kelak kita kan kumpul bersama di surga. Merajut kasih bersama anak cucu tercinta. Buah dari pengasuhan yang berkualitas selama di dunia

26. Sibuk bekerja itu sah sah saja. Tapi tanggung jawab sebagai ortu tetap yang utama. Kelak ditagih di akhir masa

27. Ingatkan pasangan jikalau lupa. Bahwa hidup bukan semata materi dan benda. Amanah Allah haruslah dijaga. Jangan sampai menyesal di masa tua

28. Semoga tak ada lagi ortu durhaka. Yang abaikan hak anak seenaknya. Berharaplah untuk bisa sukses dalam kerja. Keluarga tetap terjaga

29. Kultweet ini sekedar renungan. Jika ada yang salah mohon dimaafkan. Semoga kita bisa jadi ortu idaman. Silahkan share jika berkenan (bendri jaisyurrahman)

Smoga bermanfaat :)

Wednesday, January 14, 2015

Here we are

alhamdulillah, akhirnya udh nemu cara posting tnp harus buka laptop \(^_^)/ yup tinggal instal app blog di hp-> uhuy ini yg kumau sejak dulu,bs eksis lg deh :)

Januari 2015, awal tahun, semoga tahun ini awal yg lbh baik untuk keluarga kecil kami.. baik ekonomi, sosial, dan ibadah..

Menjadi pribadi yg lebih baik,bijaksana & senantiasa diberkahi..aamiiin

Tuesday, May 22, 2012

Aku ingin Anak ku Menirumu

Kisah ini ku muat di blog ku, sbg pengingat jika suatu hari aq terdorong emosi atau suami atau sodara atau siapapun yang berinteraksi dengan anakku, tidak melakukan sesuatu yang kasar... Namun penuh kelembutan dan pengertian pada anak-anakku kelak. Agar mereka dibesarkan dengan kasih sayang dan tanpa kekasaran, namun kesabaran dan cinta dalam mengarahkan mereka.. Amiin


Ketika lahir, anak lelakiku gelap benar kulitnya, Lalu kubilang pada ayahnya: “Subhanallah, dia benar-benar mirip denganmu ya!” Suamiku menjawab:

“Bukankah sesuai keinginanmu? Kau yang bilang kalau anak lelaki ingin seperti aku.” Aku mengangguk. Suamiku kembali bekerja seperti biasa. Ketika bayi kecilku berulang tahun pertama, aku mengusulkan perayaannya dengan mengkhatamkan Al Quran di rumah Lalu kubilang pada suamiku:

“Supaya ia menjadi penghafal Kitabullah ya,Yah.” Suamiku menatap padaku seraya pelan berkata: “Oh ya. Ide bagus itu.”

Bayi kami itu, kami beri nama Ahmad, mengikuti panggilan Rasulnya. Tidak berapa lama, ia sudah pandai memanggil-manggil kami berdua: Ammaa. Apppaa. Lalu ia menunjuk pada dirinya seraya berkata: Ammat! Maksudnya ia Ahmad. Kami berdua sangat bahagia dengan kehadirannya.

Ahmad tumbuh jadi anak cerdas, persis seperti papanya. Pelajaran matematika sederhana sangat mudah dikuasainya. Ah, papanya memang jago matematika. Ia kebanggaan keluarganya. Sekarang pun sedang S3 di bidang Matematika. Ketika Ahmad ulang tahun kelima, kami mengundang keluarga. Berdandan rapi kami semua. Tibalah saat Ahmad menjadi bosan dan agak mengesalkan. Tiba-tiba ia minta naik ke punggung papanya. Entah apa yang menyebabkan papanya begitu berang, mungkin menganggap Ahmad sudah sekolah, sudah terlalu besar untuk main kuda-kudaan, atau lantaran banyak tamu dan ia kelelahan. Badan Ahmad terhempas ditolak papanya, wajahnya merah, tangisnya pecah, Muhammad terluka hatinya di hari ulang tahunnya kelima.

Sejak hari itu, Ahamad jadi pendiam. Murung ke sekolah, menyendiri di rumah. Ia tak lagi suka bertanya, dan ia menjadi amat mudah marah. Aku coba mendekati suamiku, dan menyampaikan alasanku. Ia sedang menyelesaikan papernya dan tak mau diganggu oleh urusan seremeh itu, katanya.

Tahun demi tahun berlalu. Tak terasa Ahmad telah selesai S1. Pemuda gagah, pandai dan pendiam telah membawakan aku seorang mantu dan seorang cucu. Ketika lahir, cucuku itu, istrinya berseru sambil tertawa-tawa lucu: “Subhanallah! Kulitnya gelap, Mas, persis seperti kulitmu!”

Ahmad menoleh dengan kaku, tampak ia tersinggung dan merasa malu.
“Salahmu. Kamu yang ingin sendiri, kan. Kalau lelaki ingin seperti aku!” Di tanganku, terajut ruang dan waktu. Terasa ada yang pedih di hatiku. Ada yang mencemaskan aku. Cucuku pulang ke rumah, bulan berlalu. Kami, nenek dan kakeknya, datang bertamu. Ahmad kecil sedang digendong ayahnya. Menangis ia. Tiba-tiba Ahmad anakku menyergah sambil berteriak menghentak, “Ah, gimana sih, kok nggak dikasih pampers anak ini!” Dengan kasar disorongkannya bayi mungil itu.

Suamiku membaca korannya, tak tergerak oleh suasana. Ahmad, papa bayi ini, segera membersihkan dirinya di kamar mandi. Aku, wanita tua, ruang dan waktu kurajut dalam pedih duka seorang istri dan seorang ibu. Aku tak sanggup lagi menahan gelora di dada ini. Pecahlah tangisku serasa sudah berabad aku menyimpannya. Aku rebut koran di tangan suamiku dan kukatakan padanya:

“Dulu kau hempaskan Ahmad di lantai itu! Ulang tahun ke lima, kau ingat? Kau tolak ia merangkak di punggungmu! Dan ketika aku minta kau perbaiki, kau bilang kau sibuk sekali. Kau dengar? Kau dengar anakmu tadi? Dia tidak suka dipipisi. Dia asing dengan anaknya sendiri!”

Allahumma Shali ala Muhammad. Allahumma Shalli alaihi wassalaam. Aku ingin anakku menirumu, wahai Nabi. Engkau membopong cucu-cucumu di punggungmu, engkau bermain berkejaran dengan mereka Engkau bahkan menengok seorang anak yang burung peliharaannya mati. Dan engkau pula yang berkata ketika seorang ibu merenggut bayinya dari gendonganmu, “Bekas najis ini bisa kuseka, tetapi apakah kau bisa menggantikan saraf halus yang putus di kepalanya?” Aku memandang suamiku yang terpaku.

Aku memandang anakku yang tegak diam bagai karang tajam. Kupandangi keduanya, berlinangan air mata. Aku tak boleh berputus asa dari Rahmat-Mu, ya Allah, bukankah begitu? Lalu kuambil tangan suamiku, meski kaku, kubimbing ia mendekat kepada Ahmad. Kubawa tangannya menyisir kepala anaknya, yang berpuluh tahun tak merasakan sentuhan tangan seorang ayah yang didamba. Dada Ahmad berguncang menerima belaian. Kukatakan di hadapan mereka berdua, “Lakukanlah ini, permintaan seorang yang akan dijemput ajal yang tak mampu mewariskan apa-apa: kecuali Cinta. Lakukanlah, demi setiap anak lelaki yang akan lahir dan menurunkan keturunan demi keturunan.

Lakukanlah, untuk sebuah perubahan besar di rumah tangga kita! Juga di permukaan dunia. Tak akan pernah ada perdamaian selama anak laki-laki tak diajarkan rasa kasih dan sayang, ucapan kemesraan, sentuhan dan belaian, bukan hanya pelajaran untuk menjadi jantan seperti yang kalian pahami. Kegagahan tanpa perasaan. Dua laki-laki dewasa mengambang air di mata mereka.

Dua laki-laki dewasa dan seorang wanita tua terpaku di tempatnya. Memang tak mudah untuk berubah. Tapi harus dimulai. Aku serahkan bayi Ahmad ke pelukan suamiku. Aku bilang: “Tak ada kata terlambat untuk mulai, Sayang.” Dua laki-laki dewasa itu kini belajar kembali. Menggendong bersama, bergantian menggantikan popoknya, pura-pura merancang hari depan si bayi sambil tertawa-tawa berdua, membuka kisah-kisah lama mereka yang penuh kabut rahasia, dan menemukan betapa sesungguhnya di antara keduanya Allah menitipkan perasaan saling membutuhkan yang tak pernah terungkapkan dengan kata, atau sentuhan. Kini tawa mereka memenuhi rongga dadaku yang sesak oleh bahagia, syukur pada-Mu Ya Allah! Engkaulah penolong satu-satunya ketika semua jalan tampak buntu. Engkaulah cahaya di ujung keputusasaanku. Tiga laki-laki dalam hidupku aku titipkan mereka di tangan-Mu. Kelak, jika aku boleh bertemu dengannya, Nabiku, aku ingin sekali berkata: Ya, Nabi. aku telah mencoba sepenuh daya tenaga untuk mengajak mereka semua menirumu! Amin, Alhamdulillah

Sumber : Kumpulan cerita Motivasi (resensi.net)

Thursday, July 7, 2011

Jangan Jadikan Aku Istrimu..

Jangan jadikan aku istrimu, jika nanti dengan alasan bosan kamu berpaling pada perempuan lain kamu harus tahu meski bosan mendengar suara dengkurmu, melihatmu begitu pulas, wajah mantan yang terlihat begitu sempurnapun tak mengalihkan pandanganku dari wajah lelahmu setelah bekerja seharian.



Jangan jadikan aku istrimu, jika nanti kamu enggan hanya untuk mengganti popok anakmu ketika dia terbangun tengah malam. Sedang selama Sembilan bulan aku harus selalu membawanya di perutku, membuat badanku pegal dan tak lagi bisa tidur sesukaku


Jangan jadikan aku istrimu, jika nanti kita tidak bisa berbagi baik suka dan sedih dan kamu lebih memilih teman perempuanmu untuk bercerita. Kamu harus tahu meski begitu banyak teman yang siap menampung curahan hatiku, padamu aku hanya ingin berbagi dan aku bukan hanya teman tidurmu yang bisa diajak bercerita sebagai seorang sahabat.


Jangan jadikan aku istrimu, jika nanti dengan alasan sudah tidak ada kecocokan kamu mencari perempuan yang lain. Kamu tahu betul, kita memang berbeda dan bukan persamaan yang menyatukan kita tapi komitmen bersama.


Jangan jadikan aku istrimu, jika nanti kamu memilih tamparan dan pukulan untuk memperingatkan kesalahanku. Sedang aku tidak tuli dan masih bisa mendengar kata-katamu yang lembut tapi berwibawa.


Jangan jadikan aku istrimu, jika nanti setelah seharian bekerja kami tidak segera pulang dan memilih bertemu teman-temanmu. Sedang seharian aku sudah begitu lelah dengan cucian dan setrikaan yang menumpuk dan aku tidak sempat bahkan untuk menyisir rambutku, anak dan rumah bukan hanya kewajibanku karena kamu menikahiku bukan untuk jadi pembantu tapi pendamping hidupmu dan jika boleh memilih aku akan memilih mencari uang dan kamu di rumah saja sehingga kamu akan tahu bagaimana rasanya.


Jangan jadikan aku istrimu, jika nanti kamu lebih sering di kantor dan berkutat dengan pekerjaanmu bahkan di hari minggu daripada meluangkan waktu bersama keluarga. Aku memilihmu bukan karena aku tahu aku akan hidup nyaman dengan segala fasilitas yang bisa kamu persembahkan untukku. Harta tidak pernah lebih penting dari kebersamaan kita membangun keluarga karena kita tidak hidup untuk hari ini saja.


Jangan jadikan aku istrimu, jika nanti kamu malu membawaku ke pesta pernikahan teman-temanmu dan memperkenalkanku sebagai istrimu. Meski aku bangga karena kamu memilihku tapi takkan kubiarkan kata-katamu menyakitiku. Bagiku pasangan bukan sebuah trofi apalagi pajangan, bukan hanya seseorang yang sedap dipandang mata tapi menyejukkan batin ketika dunia tak lagi ramah menyapa. Rupa adalah anugerah yang akan pudar terkikis waktu dan pada saat itu kamu akan tahu kalau pikiran dangkal telah menjerumuskanmu.


Jangan jadikan aku istrimu, jika nanti kamu berpikir akan mencari pengganti ketika tubuhku tak selansing sekarang. Kamu tentunya tahu kalau kamu juga ikut andil besar dengan melarnya tubuhku karena aku tidak lagi punya waktu untuk diriku sedang kamu selalu menyempatkan diri ketika teman-temanmu mengajakmu berpetualang.


Aku mohon jangan buru-buru menjadikan aku istrimu, jika saat ini kamu masih belum bisa menerima kekurangan dan kelebihanku. Sedang seiring waktu kekurangan bukan semakin tipis tapi tambah nyata dan kelebihanku mungkin akan mengikis kepercayaan dirimu. Kamu harus tahu perut buncitmu tak sedikitpun mengurangi rasa cintaku dan prestasimu membuatku bangga bukan justru terluka.


Sumber: MP kadaiambo

Feeds

*** Hoping the best in my Life.. & Trying To Do the best with Allah Bless... ***

~~ SELAMAT DATANG DI BLOG YANG SEDERHANA INI, SEMOGA BERMANFAAT DAN DAPAT DIJADIKAN SEBAGAI MEDIA BERSILATURAHIM ~~