Tuesday, April 19, 2011

Gerakan Tutup Mulut (GTM)

Ini dia kiat mengatasi anak yg GTM (Gerakan Tutup Mulut). Dikutip dari "mamakukokihandal". Kenapa aq men-share nya di blog ku?

1. Biar suatu saat ketika anakku sdh mulai besar & aq mengalaminya, ga ribet nyari2 artikel ini hehe
2. Sharing sama para ortu lain (siapa tau pas lg kejadian), so lbh mudah ngatasinnya

Intinya ya biar manfaat bagi semua... ;)

Oke, ga berlama-lama... begini isi artikelnya (yang dirangkum dr sbh seminar)

APA SIH GTM?

Menurut mbak Alzena Masykouri, MPsi – GTM adalah suatu istilah yang diberikan pada perilaku anak, biasanya berusia di bawah 3 tahun, yang menolak untuk makan. Kenapa kebanyakan berusia di bawah 3 tahun, karena anak-anak usia 3 tahun ke atas biasanya sudah terampil untuk menyampaikan keinginannya secara lisan. Dengan mengutarakan perasaan atau keinginannya secara lisan, tentunya lebih mudah bagi orang lain (baca : orang tua dan pengasuh) untuk memahami keinginannya. Sedangkan, pada anak usia batita (bawah tiga tahun), kemampuan verbal yang masih terbatas menghalanginya untuk dapat menyampaikan keinginannya secara lisan. Akibatnya, mereka memilih untuk menunjukkan perasaan dan keinginannya dengan perilakunya. Tentu kita masih ingat dengan ‘temper tantrum’? Nah, GTM dan ‘temper tantrum’ adalah bentuk perilaku anak untuk menunjukkan keinginannya. GTM biasanya terjadi di masa-masa bayi melakukan pengendalian terhadap apa yang dia inginkan dari orang lain. Berbeda dengan bayi-bayi yang sedang dalam masa eksplorasi dimana semuaaaaaa benda dimasukkan ke mulut.

PEGANG TEGUH PRINSIP INI

Pertama, yang kita harus camkan adalah: Makan bukan hanya merupakan kebutuhan fisik, tapi juga kebutuhan sosial. Belajar makan adalah pembelajaran hidup terstruktur pertama bagi bayi. Jadi landasannya harussss kuat untuk membuat habit makan yang baik. Maksudnya apa sih pembelajaran hidup terstruktur itu?

Dalam proses belajar makan, anak diajarkan untuk selalu makan pada waktu tertentu, dengan posisi duduk (karena itu syarat mulai MP adalah setelah anak bisa duduk menopang kepala dengan tegak), di tempat makan (meja, highchair), membuka mulut, memasukkan makanan, mengunyah, menelan. Kedengarannya mudah, tapi sebetulnya nggak sesimpel itu. Kebiasaan baik saat makan juga perlu diajarkan seperti tertib saat makan, makan nggak boleh sambil disambi nonton TV, bermain dll. Duhhh.. pasti banyak yang udah jleb-jleb-jleb ya? hahah… tenaaang…

Kedua: Beri Contoh. Makan bersama-sama keluarga adalah pembelajaran makan yang sangat baik, karena anak akan mencontoh apa yang orang dewasa lakukan. Bercerita tentang makanan apa yang dimakan pada juga merupakan hal yang baik. Ajarkan bahwa makan adalah kebutuhan, bukan kewajiban. Jadi biarkan anak merasakan dan mengerti konsep “Lapar”, artinya jangan membuat porsi makanan yang fantastis. Lebih baik belikan sedikit tapi kalau kurang ditambah daripada membuat porsi besar tapi anak nggak bisa habiskan yang akibatnya bikin kita stress karena menganggap anak makannya nggak banyak dan bikin anak rewel karena dipaksa makan padahal sudah kenyang. Makan bukan kejar setoran :D

Jadi.. apa dong langkah selanjutnya?

TENANG DAN LOGIS

Gimana bisa tenaaaaang!!!!???????

Tenaaang, jangan esmosi dulu. Terus baca artikel ini. Kita harus memberi pemahaman terus menerus pada anak kita tentang konsep “lapar” itu. Biasanya, untuk anak yang lebih besar terkadang mereka nggak mau makan makanan padat. Tapi kalau lapar mereka akan minta susu yang rasanya lebih enak dan tinggal “glek”. Disinilah diperlukan pembelajaran pada anak (dan konsistensi orang tua) untuk memberi pemahaman pada anak bahwa yang mereka rasakan adalah “lapar” dan harus “makan”. Bukan hanya minum susu. Memang sih pasti bikin emosi jiwa tak terhingga “menyadarkan” anak soal ini. Tapi… sudahkan Mama mengajarkan hal-hal esensial, tahukah Mama bahwa multitasking pada bayi adalah hal yang seharusnya tidak dilakukan? Maksudnya, bayi makan sambil nonton TV, jalan-jalan, bermain, berlari-lari.
Penting untuk mengajarkan pada anak untuk selalu berkonsentrasi pada kegiatan makan yang dia lakukan. Batasi waktu makan tidak lebih dari 30 menit, makan sesuai apa yang ada dan jangan pernah memberikan “suap” berupa makanan lain yang lebih disukai anak. Misal : “Kalo udah habis, nanti Mama kasih cokelat ya”. Susah? tentunyaaa… apalagi kalo yang sudah terlanjur punya kebiasaan makan yang salah. Tapi, konsistensi kita sebagai orangtua /pengasuh yang harus ditega-tegain :D . Yang pengen punya anak kita juga kan, Ma..Pa…?

Lalu, jangan langsung panik kalau anak GTM. GTM terjadi karena 2 sebab utama: Sebab organik dan anorganik.

Sebab Organik merupakan sebab yang berhubungan langsung dnegan organ makan anak, misalnya mulut sariawan, gusi pedih karena mau tumbuh gigi, radang , dll. Sedangkan sebab anorganik meliputi keadaan psikologis anak, suasana hati anak dan pengasuh, suasana lingkungan, dll. Cek dulu, siapa tahu anaknya memang lagi sariawan atau tumbuh gigi lalu sesuaikan jenis makanan yang bisa menyamankan namun memenuhi kecukupan gizi-nya.

Itulah mengapa jurnal makanan menjadi hal yang penting. Nggak perlu mendetail sih, yang penting kita punya sebuah buku yang berisi tentang catatan harian makanan apa yang dimakan, dimasak apa, dan bagaimana reaksinya. Lalu, saat makan usahakan selalu berkomunikasi dan selalu senyum sebelum memulai makan. Jadikan acara makan menjadi

waktu yang menyenangkan bagi anak dan pengasuh. Nggak bisa memungkiri sih, kita kadang (atau seringkali?) nggak sabar menunggu anak membuka mulut untuk makan sementara kita perlu kerja ini-itu. Kalau nggak habis kok buang-buang makanan. Nunggu habis lama. Nggak dihabiskan takut kelaparan … dilemanyaaaa….

dr. Yossi Arioseno mengatakan, janganlah kita terpaku menghitung asupan pada hari itu saja, tapi kita lihat saja asupan kecukupan gizi selama seminggu. Lalu dari segi klinis, dr Yossi mengatakan bahwa jangan menilai anak kurus, kurang gizi, malnutrisi, hanya dari penampakan luarnya saja. Selalu cek paling tidak di KMS atau growth-chart. Kalau terjadi hal yang serius bisa hubungi tenaga profesional seperti dokter anak ataupun ahli gizi.

Dari seminar ini, ada beberapa hal yang bisa dilakukan untuk mengatasi anak GTM:

1. Temukan sebabnya.

Apakah karena sebab organik atau anorganik. Kalau sebabnya organik (sariawan, radang tenggorokan) segera atasi dan buatlah makanan-makanan yang tidak mengiritasi sariawan atau radang-nya. Kalau sebabnya anorganik memang lebih susah mengatasinya. Tapi susah bukan berarti nggak bisa lho!

Kalau anak jadi susah makan karena ayahnya pergi, atau ganti pengasuh, berikan pengertian pada anak. Ajak anak ngobrol bahwa kita tahu perasaannya yang sedang sedih, rindu, tapi harus tetap makan supaya tetap sehat. Hiburlah anak, ajak bicara, walau mungkin Mama dan Papa menganggap bayi tidak mengerti apa yang kita bicarakan tapi percaya deh.. mereka paham lho. Dan seperti manusia yang sudah besar, mereka juga ingin dipahami. Kalau memang sudah berkelanjutan masalahnya, bawa ke psikolog untuk dianalisa apa sebetulnya yang membuat anak jadi tidak mau makan sama sekali.

2. Less Is More

Beri makan anak dalam porsi sedikit-sedikit tapi sering lebih membuat Mama-Papa-Pengasuh-Anak tidak stress daripada kekeuh memberikan makan 3 kali sehari dalam porsi “normal” dan tidak habis.

3. Susu bukan pengganti makanan!

Kadang kita tergoda, kalau anak nggak mau makan lalu kita ganti dengan susu. Ingat lho, susu bukan pengganti makanan padat. Susu adalah penyeimbang kebutuhan gizi, jadi tetap ajarkan anak untuk makan jika lapar. Bukan minum susu untuk membuatnya kenyang. Berikan pengertian bahwa kalau lapar, kamu harus makan.

Misalnya nih, anak minta susu padahal belum makan. Kita sebaiknya berkata “Dek, itu namanya lapar. Kalau lapar kita harus makan dulu ya..bukan minum susu. Yuk makan bersama”

Biasakan untuk memberikan susu dengan komposisi gizi yang lengkap setelah anak selesai makan makanan padat sebagai pelengkap dan penyeimbang bukan pengganti makanan padat :-)

4. Waktu makan = Waktu menyenangkan

Mulai dengan SENYUM, ditambah sabar dan tenang. Bercerita tentang makanan seperti: “Dek, ini namanya bayam… bayam itu warnanya hijau dan sehat sekali karena membuat kita kuat…” atau “Dek, ikan ini hidupnya di laut lho..laut itu punya kandungan gizi yang bagus supaya adek tetap sehat dan bisa main sama Mama”

Kedengerannya lebay ya… tapi perrrrrrcaya deh Ma, Pa… kalau kita santai dan tenang, anak pun merasa tenang makan bersama kita. Walau begitu tetap tegakkan aturan bahwa pada saat makan nggak boleh disambi *duh apa ya bahasanya* sambil nonton tv, mewarnai, mengalihkan perhatian, bahkan jalan-jalan. Ingat bahwa membatasi waktu makan juga sama pentingnya dengan aturan makan yang pertama tadi.

5. Berikan pilihan

Ini berlaku untuk anak yang sudah mampu bicara dan mengungkapkan preferensinya. Berikan anak kesempatan untuk memilih apa yang mau ia makan tapi kita tetap sebagi pemegang kontrol, jangan berikan pilihan terbuka. Ini contohnya:

katakan “Adek mau makan sayur bening sama ayam goreng ATAU opor ayam dan buncis rebus?”

jangan katakan “Adek mau makan apa?”

Anak akan memilih makanan yang dia sukai, dan akan cenderung yang itu-itu lagi. Kalau sudah begitu yang ada kita berantem deh sama anak :D

Ini juga melatih anak untuk berani mengemukakan keinginan serta bernegosiasi.

Yang perlu diingat, setiap anak itu unik. Penanganan sebuah masalah pada satu anak mungkin tidak berlaku pada anak lain. Seru dan menantang ya jadi orang tua. Semoga sekelumit artikel ini bisa sedikit melegakan Mama dan Papa kece yang sedang dilanda GTM anak :D no need to worry. Tetap tenang dan logis, badai GTM akan segera berlalu.

Friday, April 15, 2011

Seminar : Komunikasi Pengasuhan Anak

Satu lagi tulisan tentang pengasuhan anak dari mb Suci; yang abis ikutan seminar" Komunikasi Pengasuhan Anak"

Senengnya klo ikutan seminar2 yang penuh manfaat kaya gini.... Searching dimana ya info ttg seminar (lho koq jadi nanya2 hehe)

Oke deh, diresapi ya hasil seminarnya (sharingnya si mb Suci^^)



Ini rangkuman hasil seminar sabtu 26 Feb 2011 di setiabudi building. Pembicara Elly Risman Psi. Semoga bermanfaat buat para ibu... demi masa depan anak Indonesia Mohon maap kalo ada yang kata-kata kurang tepat..hehe

Ucapan ato perkataan ke anak harus diatur.. seperti kata pepatah lidah tak bertulang lebih tajam daripada pedang. Apa yang kita omongin, gmana cara kita ngomong, berpengaruh ke kepribadian dan masa depan anak... so jangan ngomong sembarangan

Kita harus kenali Kebutuhan dan kemauan anak, tiap masa perkembangan anak berbeda. Untuk anak seumuran Barra 2tahun, kebutuhannya adalah main, main dan main. Jadi apapun harus dilakukan sambil main, belajar sambil main, makan sambil main...dll. Untuk diatas 3 tahun pasti kebutuhannya beda lagi. Karena anak juga manusia punya kebutuhan dan kemauan... apalagi yang udah bisa mengutarakan kemauannya.. tanya aja..maunya apa Jangan merasa orang tua paling tau apa yang di butuhkan anak... "nurut aja deh! mama paling tau apa yang terbaik buat kamu" itu yang sering kita jumpai.

Baca bahasa tubuh anak, sebelum kita bicara sama anak.. baca bahasa tubuhnya. Anak yang lagi marah, kesel, sedih gak bisa di ajak bicara dengan benar. Makanya ajak seyum dulu dan ajak senang.. karena kalo hati senang otak bisa menyerap lebih banyak

12 Gaya Bicara yang salah :
Memerintah, Menyalahkan, Meremehkan, Membandingkan, Mencap/Label, Mengancam, Menasehati, Membohongi, Menghibur, Mengeritik, Menyindir, Menganalisa.
Akibat dari gaya bicara yang salah bisa berakibat Anak jadi tidak percaya pada perasaannya sendiri, jadi gak PeDe deh

Dengarkan perasaan anak (Tandai Pesan --> Jangkau Rasa --> Buka Komunikasi --> "Namain" "capek yah.." "kesel yah")
Contoh : Anak pulang sekolah dengan muka di tekuk, banting tas, banting sepatu. pesannya si anak lagi kesel berat, orang marah gak bisa di omelin, tambah bertanduk ntar hehe. jangkau rasa & buka komunikasi :
mama : "Kamu capek ya pulang sekolah?"
anak : "iyaa capek ma... bukan itu aja tadi aku di setrap gak bawa peer"
mama : (jangkau rasa, kalo kita disetrap pasti malu donk) " yaa malu donk kmu"
jangan dimarahin.."tuh kan ..gmana sih kmu kok bisa gak bawa peer sih" itu salah
and sebagainya... jadi posisikan kalo kita di posisi anak.. gali terus perasaannya, jangan coba nasehatin ato nyalahin. biarkan anak merasa, berfikir sendiri dan berusaha tidak mengulangi kesalahannya.

Tentukan : Masalah Siapa?
- Masalah anak ato ortu?
- Dibantu ato dibiarkan
- Hidup adalah pilihan & pilihan
- Anak perlu : Berfikir -> memilih -> mengambil keputusan. Supaya jadi anak yang mandiri dan bertanggung jawab.

Misalnya : Anak ketinggalan Peer dirumah, itu adalah masalah anak, tidak perlu dibantu dengan mengantarkan buku peernya ke sekolah, biarkan dia menanggung konsekuensinya.. di hukum guru. sebagai ibu siapa sih yang mau anaknya di hukum, harus tega.. itu ngajarin anak untuk bertanggung jawab dengan kesalahannya. (teori gampang yah hihihihi)

Sedari kecil, biarkan anak membuat pilihannya dan bertanggung jawab terhadap pilihannya.
mulai dari hal kecil, makan sehari-hari. bikin list tiap minggu, anak mau makan apa, biarkan dia memilih jadi gak ada alasan dia gak mau makan karena gak suka. tiap anak beda, jadi kalo ada 3 anak ya 3 pilihan menu deh... hehe

Kalo mau pergi...Barra sih masih pasrah dipakein baju apa aja..hihihi... tapi ntar juga ada masanya anak mau pake baju pilihannya. Biarkan dia memilih, kalo ke pesta ternyata dia maunya pake baju belel.. biarkan aja, tahan malu deh emaknya Itu pilihan anak kita, hargai.. semakin besar ntar dia bisa lebih berfikir mana yang pantes buat ke pesta

Gak boleh marah? sapaa bilang... kita juga butuh menumpahkan emosi, kalo enggak ntar cepet stroke Tapi cara marahnya yang di atur... sampaikan perasaan kita.
Mama/Papa .... . (kata perasaan) kalau .... karena .....
contoh :
"Mama marah kalau Barra gak mau makan"
Jadi si anak tau.. oooo mama marah ya kalo aku gak makan.

-sekian-

Feeds

*** Hoping the best in my Life.. & Trying To Do the best with Allah Bless... ***

~~ SELAMAT DATANG DI BLOG YANG SEDERHANA INI, SEMOGA BERMANFAAT DAN DAPAT DIJADIKAN SEBAGAI MEDIA BERSILATURAHIM ~~